Tanaman nilam menjadi salah satu penghasil minyak atsiri utama di Indonesia. Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak terbang atau minyak eteris (essential oilatau volatile). Sementara itu, minyak yang dihasilkan oleh tanaman nilam disebut dengan minyak nilam (patchouli oil). Minyak ini antara lain digunakan sebagai zat pengikat (fiksatif) dalam industri parfum, sabun, hair tonic, dan beberapa industri kosmetika. Minyak tersebut diperoleh dari hasil penyulingan (destilasi) daun dan tangkai tanaman nilam.
Di belahan dunia timur, terutama India, tanaman nilam sudah dikenal sejak zaman purba sebagai bahan pengharum atau pewangi. Di India, daun nilam yang telah kering digunakan sebagai repelenatau pengusir serangga pada kain. Kain-kain yang telah diberi daun nilam tadi kemudian diekspor ke Eropa, sehingga aroma nilam dikenal di negara-negara Eropa. Pada pertengahan abad ke-19, pabrik-pabrik tekstil di Prancis mengimpor daun nilam kering untuk produk tekstil mereka.
Selanjutnya, daun nilam juga diintroduksi ke Inggris. Di negara itu, minyak nilam dianggap sebagai bahan parfum yang bermutu tinggi. Dewasa ini, tanaman nilam dari India hampir seluruhnya diproduksi dan diperdagangkan dalam bentuk minyak. Minyak nilam merupakan bahan baku parfum yang terpenting dan dianggap sebagai bahan fiksatif yang paling baik dari parfum-parfum berkualitas tinggi.
Minyak nilam juga banyak digunakan dalam pembuatan sabun dan kosmetika, karena dapat dicampur dengan jenis minyak atsiri lainnya, seperti minyak cengkih, geranium, dan akar wangi. Aroma minyak nilam sangat kaya dan tahan lama, bahkan tetap terasa sampai seluruh minyaknya menguap.
Seiring dengan perkembangan zaman, dan semakin meningkatnya kebutuhan manusia pada kesehatan dan kebugaran, minyak nilam banyak digunakan sebagai bahan baku untuk aromaterapi, karena aromanya yang sangat khas. Minyak nilam bersifat fiksatif terhadap bahan pewangi lain, sehingga dapat mengikat bau wangi dan mencegah penguapan zat pewangi tersebut sehingga bau wanginya tidak cepat hilang alias lebih tahan lama. Selain itu, minyak nilam juga membentuk bau yang khas dalam suatu campuran. Karena itu, minyak nilam sendiri sebenarnya sudah bisa disebut dengan parfum karena baunya memang enak dan wangi.
Kandungan Kimia Minyak Nilam
Lingkungan tumbuh (agroklimat) mempengaruhi kandungan dan mutu minyak nilam. Kandungan minyak nilam dari dataran rendah lebih tinggi daripada nilam dataran tinggi. Namun, nilam dataran tinggi memiliki kandungan patchouli alkohol lebih tinggi daripada dataran rendah. Kandungan patchouli alkohol inilah yang menjadi salah satu penentu tingginya kualitas minyak nilam.
Nilam yang tumbuh di bawah naungan mempunyai kadar minyak lebih rendah dari pada di tempat tanpa naungan, meskipun partumbuhannya lebih subur. Hal ini diduga akibat terganggunya proses fotosintesis sehingga pembentukan minyak nilam dalam tanaman kurang lancar. Sementara itu, kandungan minyak atsiri pada nilam yang ditanam di daerah terbuka bisa mencapai 5%, sedangkan yang ditanam sebagai tanaman sela di antara pohon karet dan kelapa sawit, kandungan minyaknya hanya 4,66%. Di habitatnya, tanaman nilam cenderung tumbuh liar. Tanaman yang tidak dipelihara akan menghasilkan kadar dan mutu minyak lebih rendah dari pada tanaman yang dipelihara secara intensif.
Minyak nilam mengandung beberapa senyawa, antara lain benzaldehid (2,34%), kariofilen (17,29%), a-patchoulien (28,28%), buenesen (11,76%), dan patchouli alkohol (40,04%). Sementara itu, kandungan minyak dalam batang, cabang, atau ranting jauh lebih kecil (0,4-0,5%) daripada bagian daun (5-6%). Standar mutu minyak nilam belum seragam untuk seluruh dunia. Setiap negara menentukan sendiri standar minyak nilamnya. Indonesia menetapkan standar mutu minyak nilam untuk ekspor dengan berat jenis 0,943-0,983, indeks bias 1,504-1,514, bilangan ester maksimum 10,0, bilangan asam 5,0, warna kuning muda sampai cokelat, dan tidak tercampur dengan bahan lain. Sebelum dikirim ke eksportir, biasanya minyak nilam harus diuji terlebih dahulu untuk menentukan kualitasnya. Pengujian dapat dilakukan di laboratorium kimia, salah satunya di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor.
Pustaka: Tanaman Beraroma Wangi untuk Industri Parfum & Kosmestik Oleh Ir. Agus Kardinan, M.Sc. APU & Drs. Ludi Mauludi, MS.